BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang begitu pesat
pada era globalisasi, membawa perubahan yang sangat radikal. Perubahan itu
telah berdampak pada setiap aspek kehidupan, termasuk pada system pendidikan
dan pembelajran. Dampak dari perubahan yang luar biasa itu terbentuknya suatu
‘kumonitas global’, lebih parah lagi karena komunitas global itu ternyata tiba
jauh lebih cepat dari yang diperhitungkan: revulusi informasi telah
menghadirkan dunia baruyangbenar-benarhyper-reality.
Akibat dari perubahan yang begitu cepatnya, manusia tidak bias lagi hanya bergantung pada seperangkat nilai, keyakinan, dan pola aktivitas social yang konstan. Manusia dipaksa secara berkelanjutan untuk menilai kembali posisi sehubungan dengan factor-faktor tersebut dalam rangka membangu sebuah konstruksi social-personal yang memungkin atau yang tampaknya memungkinkan.
Akibat dari perubahan yang begitu cepatnya, manusia tidak bias lagi hanya bergantung pada seperangkat nilai, keyakinan, dan pola aktivitas social yang konstan. Manusia dipaksa secara berkelanjutan untuk menilai kembali posisi sehubungan dengan factor-faktor tersebut dalam rangka membangu sebuah konstruksi social-personal yang memungkin atau yang tampaknya memungkinkan.
B. Rumusan Masalah
a.
Apa Definisi
Pembelajaran Konstruktivisme?
b.
Bagaimana Hakekat
Pembelajaran Konstruktivisme?
c.
Bagimana Aspek-aspek
Pembelajaran Konstruktivisme?
d.
Bagimana Rancangan
Pembelajaran Konstruktivistik?
C. Tujuan
a.
Mengetahui Definisi
Pembelajaran Konstruktivisme
b.
Mengetahui Hakekat
Pembelajaran Konstruktivisme
c.
Mengetahui Aspek-aspek
Pembelajaran Konstruktivisme
d.
Mengetahui Rancangan
Pembelajaran Konstruktivistime
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
Konstruktivisme adalah cara belajar dan pembelajaran yang fokus pada upaya
memaksimalkan pemahaman peserta didik. Seperti pembelajaran diskaveri, model
pembelajaran ini dikondisikan dengan meaningful learning (pembelajran bermakna)
dari madzhab pemikiran kognitif. Di sini Konstruktivisme diartikan sebagai
pembelajaran yang menekankan pada:
1.
peran aktif pebelajar
dalam membangun pemahaman dan memupuk kepekaan terhadap informasi (woolfolk,
2003).
2.
upaya pebelajar dalam
mengkonstruk pengetahuan untuk memupuk kepekaan terhadap lingkungan (McCown,
Driscoll & Roop, 1995).
3.
belajar akan terjadi
ketika para peserta didik secara aktif-kolaboratif merencanakan situasi yang
mencakup upaya menformulasi pertanyaan, menjelaskan fenomena, menandai isu-isu
kompleks, atau menyelesaikan masalah (Gagnon & Collay, 2001).
Tujuan pembelajaran konstruktivis adalah memberdayakan peserta didik untuk
memperoleh informasi dengan jalan yang membuat informasih tersebut lebih siap
dipahami dan siap pakai.Untuk itu diperlukan beberapa karakteristik berikut:
1.
pembelajaran aktif.
2.
pembelajaran autentik
dan situasional
3.
aktivitas belajar
menarik dan menantang
4.
bridging. Yakni
pebelajar mesti menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan/ pengalaman
yang telah dimiliki
5.
pebelajar mesti
merefleksikan apa yang sedang dipelajari
6.
belajar mengambil
tempat terbaik di dalam pelbagai komunitas pebelajar
7.
pembelajar tidak
memberi pengeta-huan tetapi menfasilitasi pemerolehannya oleh pebelajar
8.
scaffolding, di mana
pembelajar menyediakan asistensi yang mungkin dibutuhkan oleh peserta didik
untuk maju.
Agar pembelajaran model ini berhasil, maka pembelajar mesti berperan sebagai fasilitator yang baik. Yaitu dia yang yakin benar akan tujuan pembelajaran konstruktivis; menginginkan pebelajarlah yang melukis sendiri konklusinya dan menformat sendiri opininya; memiliki apresiasi yang tinggi terhadap prinsip-prinsip konstruktivis seperti pembelajaran aktif, pembelajaran nyata, pembelajaran kelompok dan refleksi; siap selalu membantu pemahaman semua peserta didik dengan motivasi, support dan scaffolding yang dibutuhkan.Yang jelas, kapanpun pembelajar ingin memastikan bahwa para peserta didiknya bisa memahami sesuatu dengan baik dan mampu merecall pemahaman itu saat dibutuhkan, maka dimungkinkan bagi pembelajar untuk memanfaatkan pendekatan konstruktivis ini.
PEMBELAJARAN LANGSUNG: Mengajar dengan
Cara yang lebih Efisien
Pembelajaran langsung (direct instruction) merupakan salah satu variasi dari alternatif metode pembelajaran yang didominasi oleh guru (a teacher-dominated instructional alternative) seperti metode presentasi. Bedanya, pembelajaran ini amat berkaitan dengan apa yang diketahui tentang pengajaran efektif dan bagaimana peserta didik belajar. Tujuan pemanfaatan jenis pembelajaran ini adalah untuk membantu peserta didik belajar seefektif dan seefisien mungkin. Di sini ada dua aliran pemikiran tentang bagaimana menggunakannya. Aliran pertama mengarahkan bahwa cara yang terbaik adalah dengan mengamati prilaku para pembelajar efektif lalu peserta didik menirukannya. Ini disebut model “the master imitation”. Aliran kedua merasa bahwa lebih baik mengkaji apa yang diketahui tentang bagaimana peserta didik belajar, lalu pengetahuan itu diaplikasikan saat mengajar.
Aliran pertama disebut research-based school (aliran berbasis riset) dan yang kedua disebut learning theory-based school (aliran berbasis teori belajar). Kedua jenis direct learning tersebut sama-sama penting dan keduanya mewariskan model pebelajaran yang bermanfaat. Yang pertama memunculkan di antaranya Model Praktik Dasar (Basic Practice Model), Pembelajaran Eksplisit (Explicit Teaching), dan Pembelajaran Aktif (Active Teaching). Sedangkan yang belakangan memunculkan di antaranya Program Pembelajaran Tuntas (Mastery Teaching Program) dan Sistem Pembelajar Langsung untuk Mengajar dan Belajar (Direct Instructional System for Teaching and Learning [DISTAR]).
Pembelajaran Langsung Berbasis Riset (PLBR) biasanya digunakan untuk mendeskripsikan efektifitas tindakan para pembelajar dalam memandu belajar peserta didik yang bersifat teoritis.
Pembelajaran langsung (direct instruction) merupakan salah satu variasi dari alternatif metode pembelajaran yang didominasi oleh guru (a teacher-dominated instructional alternative) seperti metode presentasi. Bedanya, pembelajaran ini amat berkaitan dengan apa yang diketahui tentang pengajaran efektif dan bagaimana peserta didik belajar. Tujuan pemanfaatan jenis pembelajaran ini adalah untuk membantu peserta didik belajar seefektif dan seefisien mungkin. Di sini ada dua aliran pemikiran tentang bagaimana menggunakannya. Aliran pertama mengarahkan bahwa cara yang terbaik adalah dengan mengamati prilaku para pembelajar efektif lalu peserta didik menirukannya. Ini disebut model “the master imitation”. Aliran kedua merasa bahwa lebih baik mengkaji apa yang diketahui tentang bagaimana peserta didik belajar, lalu pengetahuan itu diaplikasikan saat mengajar.
Aliran pertama disebut research-based school (aliran berbasis riset) dan yang kedua disebut learning theory-based school (aliran berbasis teori belajar). Kedua jenis direct learning tersebut sama-sama penting dan keduanya mewariskan model pebelajaran yang bermanfaat. Yang pertama memunculkan di antaranya Model Praktik Dasar (Basic Practice Model), Pembelajaran Eksplisit (Explicit Teaching), dan Pembelajaran Aktif (Active Teaching). Sedangkan yang belakangan memunculkan di antaranya Program Pembelajaran Tuntas (Mastery Teaching Program) dan Sistem Pembelajar Langsung untuk Mengajar dan Belajar (Direct Instructional System for Teaching and Learning [DISTAR]).
Pembelajaran Langsung Berbasis Riset (PLBR) biasanya digunakan untuk mendeskripsikan efektifitas tindakan para pembelajar dalam memandu belajar peserta didik yang bersifat teoritis.
Tujuan dari jenis pembelajaran langsung
ini adalah untuk membantu peserta didik mempelajari materi teoritis dasar
seperti pelajaran membaca, matematika dan sebagainya dengan cara yang langsung
dan lebih efisien.
Karakteristik pembelajaran ini ada enam elemen, yaitu:
1.
berpusat pada
pembelajar (teacher centrality). Di sini pembelajar memberikan arahan dan
kontrol yang kuat.
2.
berorientasi pada
tugas yang bersifat teoritis.
3.
berpengharapan
positif. Maksudnya konsen pada prestasi dan memiliki harapan yang tinggi bahwa
peserta didik bisa/akan belajar dengan baik
4.
kerjasama dan
tanggungjawab antar peserta didik di sini amat diperluka
5.
tidak berdampak
negatif, maksudnya para peserta didik dikondisikan untuk mendapatkan rasa aman
secara pskilogis
6.
berstruktur tetap,
maksudnya semua prilaku peserta didik terkontrol dengan baik.
Ada beberapa varian PLBR, yaitu:
1.
Model Praktik Dasar
(Basic Practice Model).
Langkah-langkah
pembelajarannya adalah:
a.
memperkenalkan/
membuka pelajaran.
b.
mengembangkan pelajaran.
c.
mengawasi praktik
d.
memberikan umpan-balik
dan perbaikan
e.
memberikan
tugas/praktik mandiri.
2.
Pembelajaran Eksplisit
(Explicit Teaching).
Langkah-langkah pembelajarannya adalah:
a.
mereview tugas sebelumnya atau memeriksa
pekerjaan rumah
b.
memperkenalkan pelajaran
c.
mengembangkan
pelajaran
d.
memeriksa pemahaman
e.
mengawasi praktik
f.
memberikan umpan-balik
dan perbaikan
g.
memberikan
praktik/tugas mandiri.
3.
Pembelajaran Aktif
(Active Teaching).
Langkah-langkahnya
adalah:
a.
membuka pelajaran.
b.
mereview dan memeriksa pekerjaan rumah.
c.
mengembangkan
pelajaran.
d.
memeriksa pemahaman
peserta didik.
e.
memberikan tugas
mandiri di dalam kelas.
f.
melakukan review.
Tujuan dan karakteristik jenis kedua dari Pembelajaran Langsung ini tidak
berbeda dengan jenis yang pertama. Ada dua varian yang dianggap paling baik
untuk PLBTB ini, yaitu:
1.
Program Pembelajaran
Tuntas (Mastery Teaching Program).
Langkah-langkah
pembelajarannya adalah:
a.
memberikan peserta didik tatanan bagaimana
belajar.
b.
memberi masukan
(input) dan pemodelan;
c.
memeriksa pemahaman
d.
memberikan praktik
terbimbing.
2.
Sistem Pembelajaran
Langsung untuk Mengajar dan Belajar (Direct Instructional System for Teaching
and Learning [DISTAR]). Sistem ini dikatakan sebagai bentuk pembelajaran
langsung yang paling manjur sekaligus kontroversial. Disebut manjur karena
berlansung secara baik dengan melibatkan peserta didik, dan kontroversial
karena di sini guru mesti mengikuti setiap rencana pembelajaran yang tertulis
secara ketat.
3.
Untuk mampu
melaksanakan pembelajaran langsung, utamanya jenis PLBR, pembelajar mesti mampu
memastikan dirinya sebagai pemimpin yang efektif. Karakteristiknya adalah:
antusias, ramah, humoris, suportif, motivator, praktis/lugas/cekatan,
berwawasan luas, dan memiliki harapan tinggi bahwa peserta didiknya akan
sukses.
Menurut Peterson (1979), pembelajaran langsung tepat digunakan ketika
tujuan pembelajarannya adalah untuk meningkatkan prestasi peserta didik pada
keterampilan-keterampilan dasar yang dapat diukur melalui tes.
Masih menurut Peterson, pebelajaran langsung juga efektif digunakan untuk mengajar anak-anak dan peserta didik yang berkemampuan rendah.
Kritik yang sering dialamatkan terutama pada PLBR, di antaranya adalah: [a] kurang menghargai otonomi peserta didik (slavin, 1991); [b] struktur yang ketat di dalam PLBR dimungkinkan akan “mencekik” (kebebasan, pen.) anak-anak (Gersten & Keating, 1987); [c] pendekatan ini tidak meningkatkan prestasi peserta didik dalam kreativitas, berpikir abstrak, problem-solving atau keterampilan kognitif-tingkat tinggi (Peterson, 1979).
Masih menurut Peterson, pebelajaran langsung juga efektif digunakan untuk mengajar anak-anak dan peserta didik yang berkemampuan rendah.
Kritik yang sering dialamatkan terutama pada PLBR, di antaranya adalah: [a] kurang menghargai otonomi peserta didik (slavin, 1991); [b] struktur yang ketat di dalam PLBR dimungkinkan akan “mencekik” (kebebasan, pen.) anak-anak (Gersten & Keating, 1987); [c] pendekatan ini tidak meningkatkan prestasi peserta didik dalam kreativitas, berpikir abstrak, problem-solving atau keterampilan kognitif-tingkat tinggi (Peterson, 1979).
B. Hakikat pembelajaran Konstruktivisme
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif
menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan.
Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian
realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun
melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur
kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan
lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi
secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.
Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.
Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu:
Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.
Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu:
1.
mengutamakan
pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan,
2.
mengutamakan proses,
3.
menanamkan pembelajran
dalam konteks pengalaman social,
4.
pembelajaran dilakukan
dalam upaya mengkonstruksi pengalaman (Pranata,
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/.).
Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng
mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu
berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari
pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi.
Mengajar berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali
makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan
memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada
pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
C.
Aspek-aspek
Pembelajaran Konstruktivistik
Fornot mengemukakan aaspek-aspek
konstruktivitik sebagai berikut: adaptasi (adaptation), konsep pada lingkungan
(the concept of envieronmet), dan pembentukan makn (the construction of
meaning). Dari ketiga aspek tersebut oleh J. Piaget bermakna yaitu adaptasi
terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan
akomodasi. Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang
mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau
pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses
kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru
dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi
tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan
skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan
diri dengan lingkungan baru perngertian orang itu berkembang.
Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bias jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidaksetimbangan (disequilibrium). Akibat ketidaksetimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan struktur kognitif yang ada yang akan mengalami atau munculnya struktur yang baru. Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidaksetimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya.
Tingkatan pengetahuan atau pengetahuan berjenjang ini oleh Vygotskian disebutnya sebagai scaffolding. Scaffolding, berarti membrikan kepada seorang individu sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan pembelajar dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.
Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bias jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidaksetimbangan (disequilibrium). Akibat ketidaksetimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan struktur kognitif yang ada yang akan mengalami atau munculnya struktur yang baru. Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidaksetimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya.
Tingkatan pengetahuan atau pengetahuan berjenjang ini oleh Vygotskian disebutnya sebagai scaffolding. Scaffolding, berarti membrikan kepada seorang individu sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan pembelajar dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.
Vygotsky mengemukakan tiga kategori
pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu :
1.
siswa mencapai
keberhasilan dengan baik,
2.
siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan,
3.
siswa gagal meraih
keberhasilan. Scaffolding, berarti upaya pembelajar untuk membimbing siswa
dalam upayanya mencapai keberhasilan. Dorongan guru sangat dibutuhkan agar
pencapaian siswa ke jenjang yang lebih tinggi menjadi optimum.
Konstruktivisme Vygotskian memandang
bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individual dan keadaan
tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan
memalui adaptasi intelektual dalam konteks social budaya. Proses penyesuaian
itu equivalent dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual
yakni melalui proses regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para
konstruktivis Vygotskian lebih menekankan pada penerapan teknik saling tukar
gagasan antar individual.
Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah:
1.
mengenai fungsi dan
pentingnya bahasa dalam komunikasi social yang dimulai proses pencanderaan
terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan,
2.
zona of proximal
development. Pembelajar sebagai mediator memiliki peran mendorong dan
menjembatani siswa dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan
kompetensi.
Sumbangan penting teori Vygotsky adalah
penekanan pada hakikat pembelajaran sosiakultural. Inti teori Vygotsky adalah
menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan
penekanannya pada lingkungan social pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, funsi
kognitif manusia berasal dari interaksi social masing-masing individu dalam
konteks budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa
bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut
masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of
proximal development mereka. Zona of proximal development adalah daerah antar
tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan
memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang
didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang
dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Pengetahuan berjenjang tersebut
seperti pada sekema berikut.
D.
Rancangan Pembelajaran
Konstruktivistik
Berdasarkan teori J. Peaget dan Vygotsky
yang telah dikemukakan di atas maka pembelajaran dapat dirancang/didesain model
pembelajaran konstruktivis di kelas sebagai berikut
1.
Pertama,identifikasi
prior knowledge dan miskonsepsi. Identifikasi awal terhadap gagasan intuitif
yang mereka miliki terhadap lingkungannya dijaring untuk mengetahui
kemungkinan-kemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang menghinggapi struktur
kognitif siswa. Identifikasi ini dilakukan dengan tes awal, interview
2.
Kedua, penyusunan
program pembelajaran. Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan
pelajaran.
3.
Ketiga, orientasi dan
elicitasi, situasi pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan sangatlah perlu
diciptakan pada awal-awal pembelajaran untuk membangkitkan minat mereka
terhadap topic yang akan dibahas. Siswa dituntun agar mereka mau mengemukakan
gagasan intuitifnya sebanyak mungkin tentang gejala-gejala fisika yang mereka
amati dalam lingkungan hidupnya sehari-hari. ungkapan gagasan tersebut dapat
memalui diskusi, menulis, ilustrasi gambar dan sebagainya. Gagasan-gagasan
tersebut kemudian dipertimbangkan bersama. Suasana pembelajaran dibuat santai
dan tidak menakutkan agar siswa tidak khawatir dicemooh dan ditertawakan bila
gagasan-gagasannya salah. Guru harus menahan diri untuk tidak menghakiminya.
Kebenaran akan gagasan siswa akan terjawab dan terungkap dengan sendirinya
melalui penalarannya dalam tahap konflik kognitif.
4.
Keempat, refleksi.
Dalam tahap ini, berbagai macam gagasan-gagasan yang bersifat miskonsepsi yang
muncul pada tahap orientasi dan elicitasi direflesikan dengan miskonsepsi yang
telah dijaring pada tahap awal. Miskonsepsi ini diklasifikasi berdasarkan
tingkat kesalahan dan kekonsistenannya untuk memudahkan
merestrukturisasikannya.
5.
Kelima,
resrtukturisasi ide,
a.
tantangan, siswa
diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala-gejala yang kemudian dapat
diperagakan atau diselidiki dalam praktikum. Mereka diminta untuk meramalkan
hasil percobaan dan memberikan alas an untuk mendukung ramalannya itu.
b.
konflik kognitif dan
diskusi kelas. Siswa akan daapt melihat sendiri apakah ramalan mereka benar
atau salah. Mereka didorong untuk menguji keyakinan dengan melakukan percobaan.
Bila ramalan mereka meleset, mereka akan mengalami konflik kognitif dan mulai
tidak puas dengan gagasan mereka. Kemudian mereka didrong untuk memikirkan
penjelasan paling sederhana yang dapat menerangkan sebanyak mungkin gejala yang
telah mereka lihat. Usaha untuk mencari penjelasan ini dilakukan dengan proses
konfrontasi melalui diskusi dengan teman atau guru yang pada kapasistasnya
sebagai fasilitator dan mediator.
c.
membangun ulang
kerangka konseptual. Siswa dituntun untuk menemukan sendiri bahwa konsep-konsep
yang baru itu memiliki konsistensi internal. Menunjukkan bahwa konsep ilmiah
yang baru itu memiliki keunggulan dari gagasan yang lama.
6.
Keenam, aplikasi.
Menyakinkan siswa akan manfaat untuk beralih konsepsi dari miskonsepsi menuju
konsepsi ilmiah. Menganjurkan mereka untuk menerapkan konsep ilmiahnya tersebut
dalam berbagai macam situasi untuk memecahkan masalah yang instruktif dan
kemudia menguji penyelesaian secara empiris. Mereka akan mampu membandingkan
secara eksplisit miskonsepsi mereka dengan penjelasa secara keilmuan.
7.
Ketujuh, review
dilakukan untuk meninjau keberhasilan strategi pembelajaran yang telah
berlangsung dalam upaya mereduksi miskonsepsi yang muncul pada awal
pembelajaran. Revisi terhadap strategi pembelajaran dilakukan bila miskonsepsi
yang muncul kembali bersifat sangar resisten. Hal ini penting dilakukan agar
miskonsepsi yang resisten tersebut tidak selamanya menghinggapi struktur
kognitif, yang pada akhirnya akan bermuara pada kesulitan belajar dan rendahnya
prestasi siswa bersangkutan.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
No. 05
Mata pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : XI IPA
/ 1
Pertemuan ke
: 17, 18 dan 19
Alokasi
Waktu : 6 x 45
menit
Standar Kompetensi :
Menggunakan perbandingan fungsi,
persamaan, dan identitas trigonometri dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar :
2.1
Melakukan
manipulasi aljabar dalam perhitungan teknis yang berkaitan dengan perbandingan
trigonometri
2.2
Merancang
model matematika dari maslah yang berkaitan dengan perbandingan fungsi,
persamaan, dan identitas trigonometri
Indikator:
1.
Menyebutkan
rumus perbandingan trigonometri
I. TUJUAN PEMBELAJARAN :
1.
Siswa
dapat menyebutkan
rumus perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku
II. MATERI AJAR
1.
Rumus perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku
III. METODE PEMBELAJARAN
Metode : tanya jawab,
ceramah, diskusi.
Pendekatan : pendekatan belajar kelompok dengan penemuan terbimbing.
IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Pertemuan
Ketujuhbelas ( 2 x 45 menit)
NO
|
KEGIATAN PEMBELAJARAN
|
Waktu
(menit)
|
A.
B.
C.
|
Kegiatan
Pendahuluan
1.
guru memberikan materi untuk
dipelajari terlebih dahulu oleh siswa
Kegiatan
Inti
1. Siswa membaca dan
memahami materi yg diberikan oleh guru (Eksplorasi)
2. Siswa
mengelompok untuk berdiskusi tentang materi (Elaborasi)
3. Salah
satu kelompok menyampaikan hasil diskusi kelompok yang lain menanggapi.(Konfirmasi)
4. Siswa memperdalam
hasil temuannya dengan mengerjakan soal yang sudah disiapkan.(Eksplorasi)
5.
Diskusi
kelas membahas soal tersebut diatas, guru memberi penguatan. (Konfirmasi)
KegiatanPenutup
1.
Siswamembuatkesimpulan
2.
Siswa diberi
tugas terstruktur berupa membaca materi selanjutnya
|
10’
70’
10’
|
V. ALAT/BAHAN/SUMBER BELAJAR
Alat/bahan : White board,
Laptop, LCD
Sumber
Belajar: Buku Paket mathematics for senior High School Grade X, Sri Kurniasih dkk,
Esis.
VI. PENILAIAN
1.
Penilaian proses belajar : penilaian tugas kelompok, tugas individu
2.
Penilaian hasil belajar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar